.

Monday, 20 May 2013

Sejarah Kebumen (masyarakat)

Nama Kebumen konon berasal dari kabumian yang berarti sebagai tempat tinggal Kyai Bumi setelah dijadikan daerah pelarian Pangeran Bumidirja atau Pangeran Mangkubumi dari Mataram pada 26 Juni 1677, saat berkuasanya Sunan Amangkurat I. Sebelumnya, daerah ini sempat tercatat dalam peta sejarah nasional sebagai salah satu tonggak patriotik dalam penyerbuan prajurit Mataram di zaman Sultan Agung ke benteng pertahanan Belanda di Batavia. Saat itu Kebumen masih bernama Panjer.
Salah seorang cicit Pangeran Senopati yaitu Bagus Bodronolo yang dilahirkan di Desa Karanglo, Panjer, atas permintaan Ki Suwarno, utusan Mataram yang bertugas sebagai petugas pengadaan logistik, berhasil mengumpulkan bahan pangan dari rakyat di daerah ini dengan jalan membeli. Keberhasilan membuat lumbung padi yang besar artinya bagi prajurit Mataram, sebagai penghargaan Sultan Agung, Ki Suwarno kemudian diangkat menjadi Bupati Panjer, sedangkan Bagus Bodronolo ikut dikirim ke Batavia sebagai prajurit pengawal pangan.
Adapun selain daripada tokoh di atas, ada seorang tokoh legendaris pula dengan nama Joko Sangrib, ia adalah putra Pangeran Puger/Paku Buwono I dari Mataram, dimana ibu Joko Sangrib masih adik ipar dari Demang Honggoyudo di Kuthawinangun. Setelah dewasa ia memiliki nama Tumenggung Honggowongso, ia bersama Pangeran Wijil dan Tumenggung Yosodipuro I berhasil memindahkan keraton Kartosuro ke kota Surakarta sekarang ini. Pada kesempatan lain ia juga berhasil memadamkan pemberontakan yang ada di daerah Banyumas, karena jasanya kemudian oleh Keraton Surakarta ia diangkat dengan gelar Tumenggung Arungbinang I, sesuai nama wasiat pemberian ayahandanya. Dalam Babad Kebumen keluaran Patih Yogyakarta, banyak nama di daerah Kebumen adalah berkat usulannya.
    Di dalam Babad Mataram disebutkan pula Tumenggung Arungbinang I berperan dalam perang Mataram/Perang Pangeran Mangkubumi, saat itu ia bertugas sebagai Panglima Prajurit Dalam di Karaton Surakarta. Di dalam perang tersebut hal yang tidak masuk akal adalah ia tidak menyerah ke Pangeran Mangkubumi,yang seharusnya berpihak ke Pangeran Mangkubumi karena beliau termasuk putra Paku Buwono I/ Pangeran Puger. Ternyata ia bertugas sebagai mata2 penghubung antara pihak Kraton Surakarta dengan Pengeran Mangkubumi, pada tiap2 waktu ia sabagai utusan Kraton Surakarta untuk membawakan biaya perang kepada Pangeran Mangkubumi. Cara membawa biaya perang tersebut yang dalam bentuk emas dan berlian yang dimasukkan di dalam sebuah Kendang besar, tidak ada satupun yang tahu, baik Belanda,para punggawa Kraton Solo maupun para prajurit pihak Pangeran Mangkubumi sendiri. Cara membawanya dengan diselempangkan di belakang badannya sambil naik naik kuda, begitu berhasil menembus posisi yang dekat dengan Pangeran Mangkubumi maka dengan cepatnya Kendang tersebut ditaruh di dekat Pangeran Mangkubumi, kemudian pergi lagi. Demikian pada tiap2 waktu Arungbinang melaksanakan misi rahasia tersebut, sehingga perang Pangeran Mangkubumi mendapatkan biaya, bahkan peperangan ini ada yang menyebutkan sebagai perang Kendang. Tampaknya alasan inilah yang membuat posisi Arungbinang sebagai utusan rahasia. Tugas seperti itu dilakukan berulangkali.
Sumber: Wikipedia

Materi Lesson Studi Matematika tentang KPK

Respon guru terhadap peningkatan kualitas pembelajaran seperti apa yang diharapkan oleh pemerintah. Memanfaatkan kemajuan teknologi dan komunikasi yang ada maka guru dituntut berinovasi dalam mengajar, salah satunya dengan cara lesson study. Lesson study merupakan sebuah proses pembelajaran dengan menampilkan guru sampel dalam pembelajaran, sedangkan guru yang lain bertugas mengevaluasi proses pembelajaran tersebut.

Berikut ini akan coba kami share materi KPK yang pernah dimanfaatkan dalam proses lesson study tersebut. Materi ini membahas KPK pada mata pelajaran matematika kelas 5 di semester 1. Untuk lebih jelasnya, silahkan DOWNLOAD <-DISINI

Thursday, 16 May 2013

MODUL IPA KELAS 5 SD SEMESTER 1

Pada kesempatan ini akan coba berbagi modul IPA kelas 5 SD. Modul ini berisi materi dan latihan soal, untuk lebih jelasnya silahkan DOWNLOAD <-DI SINI modul tersebut.

Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD


Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling membantu. Tipe pembelajaran inilah yang akan diterapkan dalam pembelajaran matematika.

Tahap Pembelajaran Model STAD

a. Persiapan materi dan penerapan siswa dalam kelompok.
Sebelum menyajikan guru harus mempersiapkan lembar kegiatan dan lembar jawaban yang akan dipelajarai siswa dalam kelompok-kelomok kooperatif.
Kemudian menetapkan siswa dalam kelompok heterogen dengan jumlah maksimal 4 - 6 orang, aturan heterogenitas dapat berdasarkan pada :
(1). Kemampuan akademik (pandai, sedang, dan rendah)
Yang didapat dari hasil akademik (skor awal) sebelumnya. Perlu diingat pembagian itu harus diseimbangkan sehingga setiap kelompok terdiri dari siswa dengan siswa dengan tingkat prestasi seimbang.
(2). Jenis kelamin, latar belakang sosial, kesenangan bawaan/sifat (pendiam dan aktif), dll.


b. Penyajian materi pelajaran, ditekankan pada hal-hal berikut :

Pendahuluan
             Di sini perlu ditekankan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok dan menginformasikan hal yang penting untuk memotivasi rasa ingin tahu siswa tentang konsep-konsep yang akan mereka pelajari.
Pengembangan
             Dilakukan pengembangan materi yang sesuai yang akan dipelajari siswa dalam kelompok. Di sini siswa belajar untuk memahami makna bukan hafalan. Pertanyaan-peranyaan diberikan penjelasan tentang benar atau salah. Jika siswa telah memahami konsep maka dapat beralih kekonsep lain.

Praktek terkendali
              Praktek terkendali dilakukan dalam menyajikan materi dengan cara menyuruh siswa mengerjakan soal, memanggil siswa secara acak untuk menjawab atau menyelesaikan masalah agar siswa selalu siap dan dalam memberikan tugas jangan menyita waktu lama.

Kegiatan kelompok
               Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok sebagai bahan yang akan dipelajari siswa. Isi dari LKS selain materi pelajaran juga digunakan untuk melatih kooperatif. Guru memberi bantuan dengan memperjelas perintah, mengulang konsep dan menjawab pertanyaan.

Evaluasi
                Dilakukan selama 45 - 60 menit secara mandiri untuk menunjukkan apa yang telah siswa pelajari selama bekerja dalam kelompok. Hasil evaluasi digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disumbangkan sebagai nilai perkembangan kelompok.
Penghargaan kelompok
               Dari hasil nilai perkembangan, maka penghargaan pada prestasi kelompok diberikan dalam tingkatan penghargaan seperti kelompok baik, hebat dan super.
Perhitungan ulang skor awal dan pengubahan kelompok.
               Satu periode penilaian (3 – 4 minggu) dilakukan perhitungan ulang skor evaluasi sebagai skor awal siswa yang baru.
Kemudian dilakukan perubahan kelompok agar siswa dapat bekerja dengan teman yang lain.

Materi matematika yang relevan dengan STAD.

               Materi-materi matematika yang relevan dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah materi-materi yang hanya untuk memahami fakta-fakta, konsep-konsep dasar dan tidak memerlukan penalaran yang tinggidan juga hapalan, misalnya bilangan bulat, himpunan-himpunan, bilangan jam, dll.

Contextual Teaching and Learning (CTL)


1. Pengertian CTL
Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.

2. Perlunya CTL
Dari konsep tersebut, minimal tiga hal yang terkandung di dalamnya:
Pertama, CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
Kedua, CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan bermakna secara fungsional akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya
dalam kehidupan sehari-hari. .

3. Strategi Pembelajaran CTL
Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu mengaitkan (relating), mengalami (experiencing), menerapkan (applying), bekerjasama (cooperating) dan mentransfer (transferring).
1.      Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.
2.      Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
3.      Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan relevan.
4.      Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.
5.      Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengelaman belajar dengan focus pada pemahaman bukan hapalan.

4. Komponen  CTL
            Pada pembelajaran kontekstual (contekstual teaching and learning), ada tujuh komponenutama pembelajaran efektif, yaitu:
Cuntructivism, Inquiri, Quistioning, learning commonity, modelling, reflection, dan Authentic assessment (Depdiknas, 2002: 10-19) antara lain sebagai berikut:
1) Konstruktivisme (construktivism)
            Konstruktivisme (constructivisvism) merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong.
2) Menemukan (Inquiry)
            Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.
3) Bertanya (Questioning)
            Questioning merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong membimbing, dan menilai kemampuan berfikir siswa.
4) Masyarakat Belajar (Learning Community)
            Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain.
5) Pemodelan (Modelling)
            Komponen CTL selanjutnya adalah pemodelan. Maksudnya, dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru.
6) Refleksi (Reflection)
            Refleksi juga bagian penting dalam pembelejaran dengan pendekatan CTL. Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya.
7) Penilaian Yang Sebenarnya (Authentic Assessment)
            Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar.
5. Penerapan CTL
            CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Penerapan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya adalah berikut ini.
a.             Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja
b.            Sendiri,
c.             Menemukan sendiri, dan mengkostruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
d.            Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
e.             Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
f.             Ciptakan 'masyarakat belajar' (belajar dalam kelompok-kelompok).
g.            Hadirkan 'model' sebagai contoh pembelajaran.
h.            Lakukan refleksi di akhir pertemuan. 
i.       Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

Wednesday, 15 May 2013

SENI RUPA DAN MUSIK


A. SENI RUPA
1. Hakikat Seni Rupa
Seni rupa adalah seni yang menggunakan unsur-unsur rupa sebagai media untuk berekspresi atau berungkap. Unsur-unsur rupa tersebut, antara lain: bintik, garis, bidang, barik atau tekstur, warna ruang, bentuk, isi, dan sebagainya.
            Unsur utama dalam konsep seni rupa; (a) konsep; berkaitan dengan realitas diri dengan lingkungan dan pengalaman indrawi, (b) berkaitan dengan pengolahan media ungkap baik sebagai media maupun sumber gagasan, (c) tata; berkaitan dengan bangun dari bentuk rupa. Sehingga prosedur seni rupa merupakan kegiatan bagaimana mengolah unsur-unsur rupa.
            Prinsip seni rupa yang perlu diperhatikan adalah adanya: irama (ritme), kesatuan (unity), keseimbangan (ballance), dan keselarasan (harmony).

2. Bentuk-Bentuk Seni Rupa
            Muharam (1993) membagi kegiatan seni rupa dalam empat paket, yaitu: (a) menggambar, (b) mencetak, (c) membentuk, (d) menulis.
a. Menggambar
Menggambar merupakan peminsahan suatu objek ke dalam ukuran dua dimensi. Kartono (1987:22) membedakan gambar menjadi tiga macam, yaitu; (1) menggambar ekspresi spontanitas (2) menggambar ilustrasi (3) menggambar dekoratif.
b. Mencetak (seni grafik)
Mencetak merupakan usaha untuk memperbanyak hasil karya terbatas pada cara tradisional yang dikerjakan dengan tangan (manual). Sedangkan yang dicetak dengan mekanik tidak termasuk dalam seni grafik, melainkan produksi. Pembuatannya dibedakan menjadi empat, yaitu: cetak tinggi, cetak dalam, cetak datar, dan cetak sablon.
c. Membentuk
Membentuk merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan benda-benda dengan cara menyusun ataupun menata sedemikian rupa sehingga menghasilkan karya tiga dimensi. Caranya adalah dengan membutsir, memahat, mengukir, mencukil, mengecor, mencetak, merakit, menggunting, melipat, dan menempel.
d. Menulis
Menulis ialah menulis dengan baik dan benar. Menulis mencakup jenis huruf, ukuran huruf, dan struktur huruf.

3. Alat, Bahan, dan Teknik dalam Seni Rupa
            Alat merupakan perlengkapan yang dipergunakan untuk mengerjakan suatu karya, misalnya: pensil, kuas, palu, pena, dan sebagainya sebagai alat Bantu utama. Bahan adalah benda-benda yang dipergunakan dalam berkarya, misalnya: cat, tanah liat, plastisin, krayon, kertas, kanvas, benda bekas, tinda, dan sebagainya. Teknik merupakan cara dari usaha seseorang dalam melaksanakan proses untuk menghasilkan seni.          
            Beberapa teknik dalam seni rupa yang dikembangkan di SD, diantaranya:
            a. Kolase
Teknik melukis dengan menggabungkan antara lukisan tangan dengan menempelkan bahan lain seperti kertas koran atau bahan sejenis.
b. Montase
Cara menggambar yang menghasilkan gambar dengan tema baru dengan menempel dan menyusun potongan-potongan gambar jadi.
c.        Mozaik
Cara menggambar dengan merekatkan potongan kecil-kecil dari kertas atau bahan lain yang berwarna.
d. Cetak Tinggi
Proses membuat ganbar dengan teknik menara menggunakan acuan cetak yang permukaannya berelief.
e. Tampon
Cara mencetak yang pewarnanya digunakan tampon yang telah diberi bahan pewarna.

B. MUSIK
1. Hakikat Musik
            Musik merupakan sesuatu yang menyenangkan, mengagumkan, baik dinikmati sendiri maupun dalam kelompok orang. Harrison (1983:1) menyatakan dari peristiwa anak dilahirkan, aspek-aspek musik secara alamiah pasti menjadi bagian dari kehidupnnya. Sampai menjadi dewasapun kehidupan manusia senantiasa secara ritmis bergerak mrngiringi dari awal kegiatan sampai akhir kegiatan.
2. Unsur Musik
            Harrison (1983:17-20) menyatakan unsur musik yang sesuai untuk dikembangkan pada anak usia SD, adalah:
            a. Konsep Irama
Pengembangan konsep irama meliputi: beat (gerak), irama melodi, aksen gerak (accented beat), durasi (panjang, pendek, rata, dan tidak rata), pola (repetisi dan kontras), irama (dobel, tripel), pembagian tekanan (bagian sama, tidak sama), sinkop, perubahan irama, irama campuran.
b. Melodi
Pengembangan konsep melodi meliputi: petunjuk (naik, turun, kembali), nada (tinggi, rendah, tengah), tahap (secara urut, loncat, tetap sama), pola (penggalan dan kontras), pentatonic, nada (mayor, minor, dan yang lain), kadens.
c. Harmoni
Pengembangan konsep harmoni meliputi: suara (tunggal, paduan), melodi dengan iringan, ostinato, pentatonic, diskan, mayor, minor, akord, pola lagu (tunggal, dua bagian, tiga/ternair), sajian (monofon, polifon)
d. Bentuk
Pengembangan konsep bentuk meliputi: frase, pola (pengulangan dan kontras), refrain, intruduktion, interlude, coda, tema, variasi, dan sebagainya.
e. Tempo
Berkaitan dengan cepat dan lambat, perybahan
f. Dinamik
Berkaitan dengan Keras-lembut, kresendo-dekresendo.
g. Warna Nada
Berkaitan dengan bunyi suara, bentuk bunyi, instrumen, sumber elektronik, ansambel cokal, dan instrumental

3. Peran Musik
a. Musik untuk Musik
            Musik memberikan kesempatan pada anak untuk mampu mendemonstrasikan pilihannya dalam musik, membedakan karakteristik perbedaan bentuk-bentuk musik, memperoleh ide apa untuk menyusun musik, bekerja spesifik menyusun musik, menghubungkan musik dengan arti musik dan perasaan.
b. Kreatifitas
            Anak-anak mengekspresikan perasaan mereka dan idenya secara bebas seperti memukul drum atau menari sepanjang hari. Daya cipta ini menuntut kesempatan untuk ekspresi kreatifitasnya di sekolah.
c. Musik dan Perkembangan Sosial
            Musik memungkinkan anak untuk merasa bagian dari kelompoknya, dan pada waktu yang sama meneruskan nilai-nilai sosial yang lebih luas. Lagu-lagu daerah meneruskan pesan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
d. Musik dan Perkembangan Fisik
            Partisipasi dalam musik membantu anak mengembangkan kesadaran kemampuan tubuh dan kesadaran kecakapan untuk menguasai diri mereka sendiri.
e. Musik dan Intelektual
            Musik adalah abstraksi yang memerlukan perasaan, ingatan, dan pengonsepan. Dari  pengembangan inilah anak secara langsung maupun tidak langsung akan mengalami perkembangan intelektualnya.
f. Musik dan Emosi
            Musik dapat menentramkan satu peristiwa ketegangan yang bersifat mengembang. Musik membantu anak-anak mengidentifikasi, mengklarifikasi, dan menyusun perasaan mereka. Musik adalah satu modeluntuk memahami dunia dan pengalaman kita dan cara yang efektif untuk mengetahui sikap dan pengetahuan melalui perasaan (Swanwinck, 1979: dalam Seefeldt, 1994)

            Musik dapat dikembangkan dan dapat mendukung terhadap mata pelajaran lain di samping dipengaruhi juga oleh penataan lingkungan belajar. Harrison (1983) menyatakan bagaimana menata lingkungan belajar untuk musik, yaitu:
a. Konsistensi
            Keterampilan–keterampilan dikembangkan bukan karena temporer atau bila diperlukan, akan tetapi harus dikembangkan terus-menerus.
b. Expectation
            anak akan berkembang jika memeng orang lain mengharapkan anak untuk berprestasi, hal ini berbeda jika harapan itu berubah menjadi pembebanan pada anak.
c. Penguatan Positif
            Pengharapan erat kaitannya dengan penguatan positif. Anak yang memperoleh kemajuan diberikan penguatan, sehingga mereka merasa diharapkan dan disetujui untuk berprestasi.
  

Jangan Lupa di Like Ya Sobat

×