.

Sunday, 24 November 2013

Belajar dan Pembelajaran

Belajar dan Pembelajaran
a.    Belajar
1)   Pengertian Belajar
Belajar menurut Jones O. Whittaker (dalam Syaiful Bahri Djamarah, 2008:12) "belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman".
Dikemukakn oleh Morgan dan kawan-kawan (dalam Baharudin dan Nur Wahyuni, 2007:14) "belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatiftetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman".
Menurut Y.Padmono (2009:6) "belajar adalah bagaimana memperoleh informasi, memahami informasi yang menyangkut proses konseksi, menggunakan secara lincah dan fleksibel sehingga terbentuk suatu wawasan yang bermakna".
Syaiful Bahri Djamarah (2008:13) menyatakan bahwa "belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungan yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor".
Trusan hakim (2002:1) menyatakan bahwa "belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi dalam diri manusia dan perubahan itu ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas, kuantitas, tingkah laku seperti kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, daya pikir dan lain-lain kemampuan".
Tim WRI (2001:139) "belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sanagat fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan".
Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah usaha memperoleh informasi, memproses sehingga terbentuk suatu wawasan yang bermakna dengan ditandai oleh perubahan tingkah laku dan belajar merupakan sesuatu yang awalnya mampu melaksanakan sesuatu kemudian setelah terjadi interaksi akan terjadi perubahan-perubahan atau mampu melakukan sesuatu, adapun wujudnya bermacam-macam antara lain berupa sikap, tingkah laku dan motivasi.
2)   Ciri-ciri Belajar
Menurut Baharudin dan Nur Wahyuni, (2007:15) ciri-ciri belajar antara lain; (1) belajar ditandai deangan adanya perubahan tingkah laku, artinya hasil belajar dapat diamati oleh tingkah laku, (2) perubahan yang relatif tetap, artinya bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi karena belajar akan bertahan dalam waktu yang relatif lama, (3) perubahan tingkah laku tidak dapat segera daiamati pada saat proses belajar sedang berlangsung, (4) perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman, (5) pelatihan dan pengalaman tersebut dapat memberi penguatan, penguatan ini memberikan dorongan untuk mengubah tingkah laku.
3)   Prinsip-prinsip Belajar
Prinsip belajar dapat diartikan sebagai pandangan-pandangan mendasar dan dianggap penting yang dijadikan sebagai pegangan dalam melaksanakan kegiatan belajar. Prinsip belajar merupakan akumulasi pengalaman panjang guru tentang hal-hal positif yang mendukung terjadinya proses belajar dan pencapaian hasil belajar yang diharapkan, atau bersumber dari temuan-temuan penelitian yang sengaja dirancang untuk menguji validitas-validitas prinsip belajar tertentu yang diyakini efektivitasnya. Prinsip-prinsip belajar bermanfaat untuk memberikan arah tentang apa saja yang sebaiknya dilakukan oleh guru agar para siswa dapat berperan aktif di dalam proses pembelajaran.
Aktif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:19) berarti giat (berusaha, bekerja) sedangkan keaktifan diartikan sebagai hal atau keadaan di mana siswa dapat aktif. Keaktifan siswa dalam belajar matematika tampak dalam kegiatan berbuat untuk memahami materi pelajaran dengan penuh keyakinan dan sungguh-sungguh, mencoba menyelesaikan latihan soal-soal dan tugas-tugas yang diberikan guru, belajar dalam kelompok, mencoba sendiri konsep-konsep tertentu, dan mampu mengkomunikasikan pikiran dan penemuan secara lisan atau penampilan (Erman Suherman, 2001:76).
Aktivitas belajar itu banyak sekali macamnya, menurut Paul D. Dierich yang dikutip oleh Oemar Hamalik (2001:172) membagi kegiatan belajar dalam 8 kelompok yaitu; (1) kegiatan visual:membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain, (2) kegiatan lisan:menggunakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan interupsi, (3) kegiatan mendengarkan:mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio, (4) kegiatan menulis:menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, membuat rangkuman, mengerjakan tes, dan mengisi angket, (5) kegiatan menggambar:Menggambar, membuat grafik, chart, diagram peta dan pola, (6) kegiatan metrik:melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun, dan (7) kegiatan mental:merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, melihat hubungan-hubungan, dan membuat keputusan.
Kegiatan-kegiatan dalam kelompok ini terdapat dalam semua jenis kegiatan dan overlap satu sama lain. Dalam penelitian ini, siswa dapat dikatakan aktif dalam pembelajaran jika terjadi peningkatan presentasi keaktifan belajar pada akhir pelajaran.
4)   Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Adapun faktor yang mempengaruhi belajar adalah faktor yang yang ada pada dirinya sendiri yang disebut faktor individual dan faktor yang ada diluar individu yang disebut faktor sosial (M. Ngalim Purwanto 1990:102).
Seseorang mengalami proses belajar dengan ditandai adanya perubahan yang diperoleh melalui pengalaman, praktek, latihan, disengaja disadari sesuai dengan yang diharapkan , mempunyai makna dan pengaruh bagi siswa, suatu saat dapat dipergunakan bila diperlukan dengan demikian perubahan itu mencangkup keseluruhan perilaku secara terpadu.
Menurut Muhibbin Syah (2001:132), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu; (1) faktor internal (faktor dalam diri siswa), yakni keadaan /kondisi jasmani dan rohani siswa, (2) faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan disekitar siswa, (3) faktor pendekatan belajar , yaitu jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajran materi pelajaran.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengarui belajra adalah sebagai berikut:(1) faktor internal (faktor dari diri siswa), yang terdiri dari faktor fiologis dan faktor psikologis, (2) faktor eksternal (faktor yang berasal dari luar diri siswa), yang terdiri dari faktor-faktor nasional, faktor-faktor sosial dan pendekatan belajar.
5)   Motivasi Belajar
Winkel (1991) mengemukakaan bahwa "motivasi belajar adalah keseluruhandaya penggerak psikis didalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar, dan memberikan arah terhadap demi mencapai suatu tujuan tertentu". Motivasi belajar memegang peran penting dalam memberikan gairah belajar. Siswa yang memiliki motivasi kuat akan memilikienergi yang banyak untuk melakukan kegiatan belajar. Motivasi belajar dapat diumpamakan sebagai kekuatan mesin dalam sebuah mobil. Mesin yang berkekuatan tinggi menjamin lajunya mobil, sekalipun jalan yang dilalui menanjak membawa muatan yang berat. Namun, motivasi belajar tidak hanya memberikan kekuatan pada upaya belajar saja, tetapi juga memberikan arah belajar yang jelas.
6)   Bentuk Motivasi belajar
Motivasi belajar dibedakan atas dua bentuk. Pertama, motivasi ekstrisik. Aktivitas belajar dilakukan berdasrkan kebutuhan dan dorongan yang tidak secara berkaitan dengan aktivitas belajar sendiri. Misalnya, siswa rajin belajar dapat memperoleh hadiah yang telah dijanjikan kepadanya, atau siswa yang tekun belajar menghindari hukuman yang diancamkan. Motivasi ekstrinsik sesungguhnya bentuk motivasi yang berasal dari dalam diri siswa, tetapi berasal dari orang lain. Motivasi belajar sesungguhnya selalu berpangkal pada suatu kebutuhan yang dihayati oleh individu yang bersangkutan, sekalipun orang lain memegang peranan dalam menimbulkan motivasi itu.
Yang khas pada motivasi ekstrinsik ini ada atau tidak adanya pengaruh dari luar, melainkan apakah kebutuhan yang diinginkan dapat dipenuhi dengan melalui belajar atau juga dapat dipenuhi dengan cara lain. Yang tergolong jenis motivasi belajar ekstrinsik antara lain; (1) belajar demi memenuhi kebutuhan, (2) belajar demi menghindari hukuman yang diancamkan, (3) belajar demi memperoleh hadiah material yang dijanjikan, (4) belajar demi meningkatkan gensi sosial, (5) belajar demi memperoleh pujian dari orang penting, misalnya guru dan orang tua, (6) belajar demi tuntutan jabatan yang dipegang atau demi memenuhi persyaratan pangkat administratif (Winkel, 1991:94).
Kedua, motivasi intrinsik kegiatan belajar dimulai dan diteruskan berdasrkan suatu penghayatan terhadap kebutuhan dandorongan yang secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar itu sendiri. Misalnya, siswa belajar karena ingin mengetahui seluk-beluk suatu masalah selengkap-lengkapnya, ingin menjadi orang yang terdidik atau inginmenjadi ahli dibidang studi tertentu. Semua keinginan itu berpangkal pada penghayatan kebutuhan dan siswa berdaya upaya melalui kegiatan belajar, untuk memenuhi kebutuhan itu. Kebutuhan  ini hanya dipenuhi dengan belajar giat, tidak ada cara lain untuk menjadi orang terdidik atau ahli selain belajar. Biasanya kegiatan belajar disertai dengan minat belajar dan perasaan  karena siswa menyadari bahwa dengan belajar dia dapat memperkaya dirinya sendiri. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam diri siswa. Namun, terbentuknya motivasi intrinsik, biasanya orang lain memegang peranan, misalnya orang tua menyadarkan anak tentang kaitan antara belajar dengan menjadi orang yang berpengalaman (Winkel, 1991:94-95).
7)   Tujuan belajar
Mulyani dan Johar (2001:18) tujuan belajar yaitu; (a) menjadikan anak-anak senang, bergembira dan riang dalam belajar, (b) Memperbaiki berpikir kreatif anak-anak, sifat keingintahuan, kerja sama, harga diri dan rasa percaya pada diri sendiri, khususnya dalam menghadapi kehidupan akademik, (c) mengembangkan sikap positif anak-anak dalam belajar, (d) mengembangkan afeksi dan kepekaan terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungannya, khususnya perubahan yang terjadi dalam lingkungan sosial dan teknologi.

b.    Mengajar
Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Belajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subjek yang menerima pelajaran, sedangkan mengajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan oleh pengajar.
Menurut Nana Sudjana (2005:29) "mengajar adalah suatu proses, yakni proses mengatur,mengkoordinasi lingkungan yang ada disekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar".
Sedangkan menurut Arifin (1978) dalam Ardian (2010), mendifinisikan bahwa "mengajar adalah suatu rangkaian kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat menerima, menanggapi, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu".
Dari pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah suatu rangkaian kegiatan proses timbal balik antara siswa (dalam hal ini peserta didik) dan guru (dalam hal ini pendidik) yang dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar.

c.    Pembelajaran
Pembelajaran menurut Udin S. Winataputra (2007:1.18) "merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menginisiasi, memfasilitasi dan meningkatkan intensitas  dan kualitas belajar pada peserta didik". Menurut Gagne, Briggs dan Wager (dalam Udin S. Winataputra, 2007:1.19) mengungkapkan bahwa pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah kegiatan yang dirancang untuk menginisialisasi, memfasilitasi, dan meningkatkan intensitas dan kualitas dalamproses pembelajaran.

d.   Hasil Belajar
Salah satu tujuan dalaam pembelajran adalah tercapainya hasil belajar yang baik sesuai harapan yang melaksanakan pembelajaran.


1)        Pengertian Hasil Belajar
Pengertian hasil, dalam kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) (2001:391) disebutkan bahwaa hasil adalah:(1) suatu yang diadakan (dibuat, dijadikan) oleh usaha, (2) pendapatan, perolehan, buah, (3) akibat, (4) pajak, sewa tanah.
Subiyanto (1990:196) berpendapat bahwa "pada hakikatnyaa hasil belajar berupa perubahan cara berpikir, perasaan, dan tingkah laku. Hal tersebut dapat dilihat dari kemampuan pebelajar melalui pikiran atau perbuatan. Pebelajar (peserta didik) akan belajar lebih baik jika ia dapat menerapkan apa yang ia pelajari ketika sedang belajar".
Menurut Mulyono Abdurrohman (2003:37) "hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak melalui kegiatan belajar". Dimyati dan Mujiono (2006:3) menjelaskan bahwa  "hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar".
Gagne (dalam Udin S. Winataputra 2007:2.26) mengklasifikasikan hasil-hasil belajar yang membawa implikasi terhadap pengguanaan strategi belajar-mengajar, sebagai berikut:
a)    Keterampilan intelektual dengan tahapan-tahapannya:(a) diskriminasi /mengenal benda konkret, (b) konsep konkret atau mengenal sifat-sifat benda/ objek konkret, (c) konsep terdefinisi /kemampuan memahami konsep terdefinisi, (d) aturan atau kemampuan mengguanakan atura /prinsip, dan (e) masalah atau aturan tingkat tinggi/kemampuan memecahkan masalah dengan menggunakan berbagai aturan;
b)   Strategi kognitif (kemampuan memilih dan mengubah cara-cara memberikan perhatian, belajar, mengingat, dan berfikir);
c)    Informasi verbal (kemampuan menyimpan nama/ label, fakta, pengetahuan di dalam ingatan);
d)   Keterampilan motorik (kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan fisik);
e)    Sikap (kemampuan menampilkan perilaku yang bermuatan nilai-nilai).
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah berbagai perbuatan, baik perbuatan cara berpikir, berperasaan, dan tingkah laku mauoun kemampuan yang diperoleh melalui kegiatan belajar dan mengajar.
2)   Faktor yang Mempengarui  Hasil Belajar
Usaha dan keberhasilan belajar dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut Baharuddin dan Nur Wahyuni (2007:19) faktor-faktor keberhasilan belajar dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a)    Faktor Internal
Faktor internal atau faktor yang berasal dari diri siswa yang mempengaruhi hasil belajar adalah meliputi faktor jasmaniah/fisiologis dan rohaniah/psikologis. Kondisi jasmaniah mencakup kondisi kesehatan fisik siswa dan kondisi fungsi alat indra. Setiap siswa memiliki kesehatan fisik yang berbeda-beda, ada siswa yang mampu bertahan belajar dalam waktu yang lama dan ada juga yang mudah lelah. Begitu pula dengan fungsi alat indra, ada kaalanya siswa yang memiliki kemampuan pendengaran yang kurang. Kedua kondisi internal ini sangat mempengaruhi hasil belajar setiap siswa. Oleh karena itu, guru perlu benar-benar memperhatikan kondisi setiap siswa, dan memberikan pelayanan belajar yang adil dan merata bagi setiap siswanya sehingga hasil belajar dapt optimal.
Kondisi rohaniah yang adapat mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain kecerdasan, motivasi, minat, sikap, dan bakat. Kecerdasan merupakan faktor psikologis yang paling penting dalam proses belajar siswa. Motivasi merupakan salah satu faktor yang merupakan hasil belajar, karena motivasilah yang mendorong siswa dalam melakukan kegiatan belajr. Motivasi dibedakan menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
Minat sama halnya dengan kegairahan atau keinginan. Minat dapat mempengaruhi aktivitas belajar, seseorang dengan minat yang tinggi akan lebih bersemangat dalam belajar dibanding siswa yang tidak memiliki minat belajar. Sikap juga mempengaruhi aktivitas belajar. Sikap siswa dalam belajar dipengaruhi oleh rasa senang dan tidak senang pada performance guru, pelajaran, dan lingkungan sekitar. Kemudian terakhir adalah bakat, bakat merupakan kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan dimasa datang, apabila bakat siswa sesuai dengan apa yang dipelajari, kemungkinan besar belajarnya akan berhasil.
b)   Faktor Eksternal
Selain faktor internal, faktor eksternal juga berpengaruh pada hasil belajar. Faktor eksternal dapat digolongkan menjadi dua, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nasional. Faktor lingkungan sosial meliputi tiga hal, yaitu lingkungan sosial keluarga, lingkungn sosial sekolah, dan lingkungan sosial masyarakat. Sedangkan lingkungan nasional meliputi lingkungan alamiah, lingkungan instrumental, dan faktor materi pelajaaran. Lingkungan alamiah, kondisi lingkungan yang tidak panas, suasana tenang dan sejuk serta sinar yang cukup meruoakan kondisi yang mendukung kegiatan belajar mengajar. Lingkungan instrumental,yaitu merupakan perangkat yang sangat mempengaruhi keberhasialan siswa dalam belajar, misalnya adalah gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, buku-buku penunjang pelajaaraan, dan kurikulum. Faktor materi pelajaran, materi pelajaran yang dipelajari hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangaan siswa sehingga tidak meras kesulitan dalam mempelajarinya.

e.    Penilaian Hasil Belajar
Penilaian hasil belajar adalah upaya mengumpulkan informasi untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan dan kemampuan telah dicapai oleh siswa pada akhir setiap catur wulan, akhir tahun Ajaran, atau akhir pendidikan SD atau SLTP (dalam Udin S. Winataputra 2007:1.36).
Dijelaskan lebih lanjut oleh Udin S. Winataputra tentang penilaian hasil belajar yang didasarkan atas ukuran yang ditetapkan secara nasional dilakukan sewaktu-waktu bila diperlukan untuk memperoleh keterangan tentang mutu hasil pendidikan dasar (SD dan SLTP).
Berdasar uraian di atas penilaian hasi belajar merupakan tahapan di mana diupayakan oleh pendidik untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan dan keterampilan yang telah diperoleh siswa dalm kurun waktu tertentu, dan hal tersebut dapt dilaksanakan sewaktu-waktu bila dibutuhkan.
f.     Karakteristik Anak Didik Sekolah Dasar
Menurut Nasution (dalam Syaiful Bahri Djamarah 2008:123) masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kiara sebelas atau dua belas tahun. Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2008:123) "masa usia sekolah adalah masa matang untuk belajar maupun masa matang untuk sekolah".
Masa usia sekolah dianggap oleh Suryabroto (dalam Syaiful Bahri Djamarah, 2008:124) sebagai masa intelektual atau masa keserasian sekolah menurut Suryabroto dapt diperinci menjadi dua fase yaitu (1) masa kelas-kelas rendah sekolah dasar, kira-kira umur 6 atau 7 sampai umur 9 atau 10 tahun, dan (2) masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar, kira-kira umur 12 atau 13 tahun.

a)    Masa Kelas-Kelas Rendah Sekolah Dasar
Beberapa sifat khas anak-anak pada masa usia ini antar lain adalah:(1) adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan kesehatan pertumbuhan jasmani dan prestasi sekolah, (2) adanya sikap yang cenderung untuk mematuhi peraturan-peraturan permainan tradisional, (3) adanya kecenderungan menguji sendiri, (4) suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain kalau hal itu dirasanya menguntungkan untuk meremehkan anak lain, (5) kalau tidak dapat menyelesaikan  sesuatu soal, maka soal itu dirasanya tidak penting, (6) pada masa ini (terutama 6-8 tahun) anak menghendaki nilai (angka raport) yang baik, tanpa memngingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.
b)   Masa Kelas-Kelas Tinggi Sekolah Dasar
Beberapa sifat khas anak-anak pada masa usia ini antar lain adalah:(1) adanya minat dalam kehidupan praktis sehari-hari yang kongkret, hl ini menimbulkan adanya kecenderungan adanya untuk membandingkan pekerjaan-pekerjaan praktis, (2) amat realistik, ingin tahu, dan ingin belajar, (3) menjelang akhir masa ini teklah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus, yang oleh para ahli ditafsirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor, (4) sampai kira-kira umur 11 tahun anak membutuhkan guru atau oranr-orang dewasa lainnya, (5) anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk dapat bermain bersama-sama. Didalam permainan ini biasanya anak tidak lagi terikat pada aturan permainan yang tradisional, mereka membuat peraturan sendiri.

0 comments:

Post a Comment

Jangan Lupa di Like Ya Sobat

×