Belajar dan
Pembelajaran
a. Belajar
1) Pengertian Belajar
Belajar menurut Jones O. Whittaker
(dalam Syaiful Bahri Djamarah, 2008:12) "belajar adalah proses dimana
tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman".
Dikemukakn oleh Morgan dan kawan-kawan
(dalam Baharudin dan Nur Wahyuni, 2007:14) "belajar adalah perubahan
tingkah laku yang relatiftetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau
pengalaman".
Menurut Y.Padmono (2009:6) "belajar
adalah bagaimana memperoleh informasi, memahami informasi yang menyangkut
proses konseksi, menggunakan secara lincah dan fleksibel sehingga terbentuk
suatu wawasan yang bermakna".
Syaiful Bahri Djamarah (2008:13) menyatakan
bahwa "belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh
suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam
interaksi dengan lingkungan yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor".
Trusan hakim (2002:1) menyatakan bahwa
"belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi dalam diri manusia dan
perubahan itu ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas, kuantitas, tingkah
laku seperti kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, daya pikir
dan lain-lain kemampuan".
Tim WRI (2001:139) "belajar adalah
kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sanagat fundamental dalam
penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan".
Dari beberapa definisi yang telah
dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah usaha memperoleh
informasi, memproses sehingga terbentuk suatu wawasan yang bermakna dengan
ditandai oleh perubahan tingkah laku dan belajar merupakan sesuatu yang awalnya
mampu melaksanakan sesuatu kemudian setelah terjadi interaksi akan terjadi
perubahan-perubahan atau mampu melakukan sesuatu, adapun wujudnya
bermacam-macam antara lain berupa sikap, tingkah laku dan motivasi.
2) Ciri-ciri Belajar
Menurut Baharudin dan Nur Wahyuni, (2007:15)
ciri-ciri belajar antara lain; (1) belajar ditandai deangan adanya perubahan
tingkah laku, artinya hasil belajar dapat diamati oleh tingkah laku, (2)
perubahan yang relatif tetap, artinya bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi
karena belajar akan bertahan dalam waktu yang relatif lama, (3) perubahan
tingkah laku tidak dapat segera daiamati pada saat proses belajar sedang
berlangsung, (4) perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau
pengalaman, (5) pelatihan dan pengalaman tersebut dapat memberi penguatan,
penguatan ini memberikan dorongan untuk mengubah tingkah laku.
3) Prinsip-prinsip Belajar
Prinsip belajar dapat diartikan sebagai
pandangan-pandangan mendasar dan dianggap penting yang dijadikan sebagai
pegangan dalam melaksanakan kegiatan belajar. Prinsip belajar merupakan
akumulasi pengalaman panjang guru tentang hal-hal positif yang mendukung
terjadinya proses belajar dan pencapaian hasil belajar yang diharapkan, atau
bersumber dari temuan-temuan penelitian yang sengaja dirancang untuk menguji
validitas-validitas prinsip belajar tertentu yang diyakini efektivitasnya.
Prinsip-prinsip belajar bermanfaat untuk memberikan arah tentang apa saja yang
sebaiknya dilakukan oleh guru agar para siswa dapat berperan aktif di dalam
proses pembelajaran.
Aktif menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (1990:19) berarti giat (berusaha, bekerja) sedangkan keaktifan
diartikan sebagai hal atau keadaan di mana siswa dapat aktif. Keaktifan siswa
dalam belajar matematika tampak dalam kegiatan berbuat untuk memahami materi
pelajaran dengan penuh keyakinan dan sungguh-sungguh, mencoba menyelesaikan
latihan soal-soal dan tugas-tugas yang diberikan guru, belajar dalam kelompok,
mencoba sendiri konsep-konsep tertentu, dan mampu mengkomunikasikan pikiran dan
penemuan secara lisan atau penampilan (Erman Suherman, 2001:76).
Aktivitas belajar itu banyak sekali
macamnya, menurut Paul D. Dierich yang dikutip oleh Oemar Hamalik (2001:172)
membagi kegiatan belajar dalam 8 kelompok yaitu; (1) kegiatan visual:membaca,
melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan
mengamati orang lain bekerja atau bermain, (2) kegiatan lisan:menggunakan suatu
fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan,
memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan interupsi, (3)
kegiatan mendengarkan:mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan
atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio, (4)
kegiatan menulis:menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, membuat
rangkuman, mengerjakan tes, dan mengisi angket, (5) kegiatan menggambar:Menggambar,
membuat grafik, chart, diagram peta dan pola, (6) kegiatan metrik:melakukan
percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model,
menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun, dan (7) kegiatan mental:merenungkan,
mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, melihat hubungan-hubungan, dan
membuat keputusan.
Kegiatan-kegiatan dalam kelompok
ini terdapat dalam semua jenis kegiatan dan overlap satu sama lain. Dalam
penelitian ini, siswa dapat dikatakan aktif dalam pembelajaran jika terjadi
peningkatan presentasi keaktifan belajar pada akhir pelajaran.
4) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Adapun faktor yang mempengaruhi belajar
adalah faktor yang yang ada pada dirinya sendiri yang disebut faktor individual
dan faktor yang ada diluar individu yang disebut faktor sosial (M. Ngalim
Purwanto 1990:102).
Seseorang mengalami proses belajar
dengan ditandai adanya perubahan yang diperoleh melalui pengalaman, praktek,
latihan, disengaja disadari sesuai dengan yang diharapkan , mempunyai makna dan
pengaruh bagi siswa, suatu saat dapat dipergunakan bila diperlukan dengan
demikian perubahan itu mencangkup keseluruhan perilaku secara terpadu.
Menurut Muhibbin Syah (2001:132), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat
dibedakan menjadi tiga macam yaitu; (1) faktor internal (faktor dalam diri
siswa), yakni keadaan /kondisi jasmani dan rohani siswa, (2) faktor eksternal
(faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan disekitar siswa, (3) faktor
pendekatan belajar , yaitu jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan
metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajran materi
pelajaran.
Dari beberapa pendapat diatas
dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengarui belajra adalah sebagai
berikut:(1) faktor internal (faktor dari diri siswa), yang terdiri dari faktor
fiologis dan faktor psikologis, (2) faktor eksternal (faktor yang berasal dari
luar diri siswa), yang terdiri dari faktor-faktor nasional, faktor-faktor
sosial dan pendekatan belajar.
5) Motivasi Belajar
Winkel (1991) mengemukakaan bahwa "motivasi
belajar adalah keseluruhandaya penggerak psikis didalam diri siswa yang
menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar, dan
memberikan arah terhadap demi mencapai suatu tujuan tertentu". Motivasi
belajar memegang peran penting dalam memberikan gairah belajar. Siswa yang
memiliki motivasi kuat akan memilikienergi yang banyak untuk melakukan kegiatan
belajar. Motivasi belajar dapat diumpamakan sebagai kekuatan mesin dalam sebuah
mobil. Mesin yang berkekuatan tinggi menjamin lajunya mobil, sekalipun jalan
yang dilalui menanjak membawa muatan yang berat. Namun, motivasi belajar tidak
hanya memberikan kekuatan pada upaya belajar saja, tetapi juga memberikan arah
belajar yang jelas.
6) Bentuk Motivasi belajar
Motivasi belajar dibedakan atas dua
bentuk. Pertama, motivasi ekstrisik.
Aktivitas belajar dilakukan berdasrkan kebutuhan dan dorongan yang tidak secara
berkaitan dengan aktivitas belajar sendiri. Misalnya, siswa rajin belajar dapat
memperoleh hadiah yang telah dijanjikan kepadanya, atau siswa yang tekun
belajar menghindari hukuman yang diancamkan. Motivasi ekstrinsik sesungguhnya
bentuk motivasi yang berasal dari dalam diri siswa, tetapi berasal dari orang
lain. Motivasi belajar sesungguhnya selalu berpangkal pada suatu kebutuhan yang
dihayati oleh individu yang bersangkutan, sekalipun orang lain memegang peranan
dalam menimbulkan motivasi itu.
Yang khas pada motivasi ekstrinsik ini
ada atau tidak adanya pengaruh dari luar, melainkan apakah kebutuhan yang diinginkan
dapat dipenuhi dengan melalui belajar atau juga dapat dipenuhi dengan cara
lain. Yang tergolong jenis motivasi belajar ekstrinsik antara lain; (1) belajar
demi memenuhi kebutuhan, (2) belajar demi menghindari hukuman yang diancamkan,
(3) belajar demi memperoleh hadiah material yang dijanjikan, (4) belajar demi
meningkatkan gensi sosial, (5) belajar demi memperoleh pujian dari orang
penting, misalnya guru dan orang tua, (6) belajar demi tuntutan jabatan yang
dipegang atau demi memenuhi persyaratan pangkat administratif (Winkel, 1991:94).
Kedua, motivasi intrinsik kegiatan belajar dimulai dan diteruskan berdasrkan
suatu penghayatan terhadap kebutuhan dandorongan yang secara mutlak berkaitan
dengan aktivitas belajar itu sendiri. Misalnya, siswa belajar karena ingin
mengetahui seluk-beluk suatu masalah selengkap-lengkapnya, ingin menjadi orang
yang terdidik atau inginmenjadi ahli dibidang studi tertentu. Semua keinginan
itu berpangkal pada penghayatan kebutuhan dan siswa berdaya upaya melalui
kegiatan belajar, untuk memenuhi kebutuhan itu. Kebutuhan ini hanya dipenuhi dengan belajar giat, tidak
ada cara lain untuk menjadi orang terdidik atau ahli selain belajar. Biasanya
kegiatan belajar disertai dengan minat belajar dan perasaan karena siswa menyadari bahwa dengan belajar
dia dapat memperkaya dirinya sendiri. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang
berasal dari dalam diri siswa. Namun, terbentuknya motivasi intrinsik, biasanya
orang lain memegang peranan, misalnya orang tua menyadarkan anak tentang kaitan
antara belajar dengan menjadi orang yang berpengalaman (Winkel, 1991:94-95).
7) Tujuan belajar
Mulyani dan Johar (2001:18) tujuan
belajar yaitu; (a) menjadikan anak-anak senang, bergembira dan riang dalam
belajar, (b) Memperbaiki berpikir kreatif anak-anak, sifat keingintahuan, kerja
sama, harga diri dan rasa percaya pada diri sendiri, khususnya dalam menghadapi
kehidupan akademik, (c) mengembangkan sikap positif anak-anak dalam belajar,
(d) mengembangkan afeksi dan kepekaan terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi
di lingkungannya, khususnya perubahan yang terjadi dalam lingkungan sosial dan
teknologi.
b. Mengajar
Belajar dan mengajar merupakan dua
konsep yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Belajar menunjuk pada apa
yang harus dilakukan seseorang sebagai subjek yang menerima pelajaran,
sedangkan mengajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan oleh pengajar.
Menurut Nana Sudjana (2005:29) "mengajar
adalah suatu proses, yakni proses mengatur,mengkoordinasi lingkungan yang ada
disekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses
belajar".
Sedangkan menurut Arifin (1978) dalam
Ardian (2010), mendifinisikan bahwa "mengajar adalah suatu rangkaian
kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat menerima,
menanggapi, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu".
Dari pendapat para ahli diatas, dapat
disimpulkan bahwa mengajar adalah suatu rangkaian kegiatan proses timbal balik
antara siswa (dalam hal ini peserta didik) dan guru (dalam hal ini pendidik)
yang dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar.
c. Pembelajaran
Pembelajaran menurut Udin S. Winataputra
(2007:1.18) "merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menginisiasi,
memfasilitasi dan meningkatkan intensitas
dan kualitas belajar pada peserta didik". Menurut
Gagne, Briggs dan Wager (dalam Udin S. Winataputra, 2007:1.19) mengungkapkan
bahwa pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk
memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa.
Dari
pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah kegiatan yang
dirancang untuk menginisialisasi, memfasilitasi, dan meningkatkan intensitas
dan kualitas dalamproses pembelajaran.
d. Hasil Belajar
Salah satu tujuan dalaam pembelajran
adalah tercapainya hasil belajar yang baik sesuai harapan yang melaksanakan
pembelajaran.
1)
Pengertian Hasil Belajar
Pengertian hasil, dalam kamus Besar
bahasa Indonesia (KBBI) (2001:391) disebutkan bahwaa hasil adalah:(1) suatu
yang diadakan (dibuat, dijadikan) oleh usaha, (2) pendapatan, perolehan, buah,
(3) akibat, (4) pajak, sewa tanah.
Subiyanto (1990:196) berpendapat bahwa "pada
hakikatnyaa hasil belajar berupa perubahan cara berpikir, perasaan, dan tingkah
laku. Hal tersebut dapat dilihat dari kemampuan pebelajar melalui pikiran atau
perbuatan. Pebelajar (peserta didik) akan belajar lebih baik jika ia dapat
menerapkan apa yang ia pelajari ketika sedang belajar".
Menurut Mulyono Abdurrohman (2003:37) "hasil
belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak melalui kegiatan belajar". Dimyati dan Mujiono (2006:3) menjelaskan bahwa "hasil belajar merupakan hasil dari
suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar".
Gagne (dalam Udin S. Winataputra 2007:2.26)
mengklasifikasikan hasil-hasil belajar yang membawa implikasi terhadap
pengguanaan strategi belajar-mengajar, sebagai berikut:
a) Keterampilan intelektual dengan tahapan-tahapannya:(a) diskriminasi /mengenal
benda konkret, (b) konsep konkret atau mengenal sifat-sifat benda/ objek
konkret, (c) konsep terdefinisi /kemampuan memahami konsep terdefinisi,
(d) aturan atau kemampuan mengguanakan atura /prinsip, dan (e) masalah atau aturan
tingkat tinggi/kemampuan memecahkan masalah dengan menggunakan berbagai aturan;
b) Strategi kognitif (kemampuan memilih dan mengubah cara-cara memberikan
perhatian, belajar, mengingat, dan berfikir);
c) Informasi verbal (kemampuan menyimpan nama/ label, fakta, pengetahuan di
dalam ingatan);
d) Keterampilan motorik (kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan fisik);
e) Sikap (kemampuan menampilkan perilaku yang bermuatan nilai-nilai).
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar adalah berbagai perbuatan, baik perbuatan cara
berpikir, berperasaan, dan tingkah laku mauoun kemampuan yang diperoleh melalui
kegiatan belajar dan mengajar.
2) Faktor yang Mempengarui Hasil
Belajar
Usaha dan keberhasilan belajar
dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut Baharuddin dan Nur Wahyuni (2007:19)
faktor-faktor keberhasilan belajar dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
faktor internal dan faktor eksternal.
a) Faktor Internal
Faktor internal atau faktor yang berasal
dari diri siswa yang mempengaruhi hasil belajar adalah meliputi faktor
jasmaniah/fisiologis dan rohaniah/psikologis. Kondisi jasmaniah mencakup
kondisi kesehatan fisik siswa dan kondisi fungsi alat indra. Setiap siswa
memiliki kesehatan fisik yang berbeda-beda, ada siswa yang mampu bertahan
belajar dalam waktu yang lama dan ada juga yang mudah lelah. Begitu pula dengan
fungsi alat indra, ada kaalanya siswa yang memiliki kemampuan pendengaran yang
kurang. Kedua kondisi internal ini sangat mempengaruhi hasil belajar setiap
siswa. Oleh karena itu, guru perlu benar-benar memperhatikan kondisi setiap
siswa, dan memberikan pelayanan belajar yang adil dan merata bagi setiap
siswanya sehingga hasil belajar dapt optimal.
Kondisi rohaniah yang adapat
mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain kecerdasan, motivasi, minat,
sikap, dan bakat. Kecerdasan merupakan faktor psikologis yang paling penting
dalam proses belajar siswa. Motivasi merupakan salah satu faktor yang merupakan
hasil belajar, karena motivasilah yang mendorong siswa dalam melakukan kegiatan
belajr. Motivasi dibedakan menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi
ekstrinsik.
Minat sama halnya dengan kegairahan atau
keinginan. Minat dapat mempengaruhi aktivitas belajar, seseorang dengan minat
yang tinggi akan lebih bersemangat dalam belajar dibanding siswa yang tidak
memiliki minat belajar. Sikap juga mempengaruhi aktivitas belajar. Sikap siswa
dalam belajar dipengaruhi oleh rasa senang dan tidak senang pada performance
guru, pelajaran, dan lingkungan sekitar. Kemudian terakhir adalah
bakat, bakat merupakan kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk
mencapai keberhasilan dimasa datang, apabila bakat siswa sesuai dengan apa yang
dipelajari, kemungkinan besar belajarnya akan berhasil.
b) Faktor Eksternal
Selain faktor internal, faktor eksternal
juga berpengaruh pada hasil belajar. Faktor eksternal dapat digolongkan menjadi
dua, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nasional. Faktor
lingkungan sosial meliputi tiga hal, yaitu lingkungan sosial keluarga,
lingkungn sosial sekolah, dan lingkungan sosial masyarakat. Sedangkan
lingkungan nasional meliputi lingkungan alamiah, lingkungan instrumental, dan
faktor materi pelajaaran. Lingkungan alamiah, kondisi lingkungan yang tidak
panas, suasana tenang dan sejuk serta sinar yang cukup meruoakan kondisi yang
mendukung kegiatan belajar mengajar. Lingkungan instrumental,yaitu merupakan
perangkat yang sangat mempengaruhi keberhasialan siswa dalam belajar, misalnya
adalah gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, buku-buku
penunjang pelajaaraan, dan kurikulum. Faktor materi pelajaran, materi pelajaran
yang dipelajari hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangaan siswa sehingga
tidak meras kesulitan dalam mempelajarinya.
e. Penilaian Hasil Belajar
Penilaian hasil belajar adalah upaya
mengumpulkan informasi untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan dan kemampuan
telah dicapai oleh siswa pada akhir setiap catur wulan, akhir tahun Ajaran,
atau akhir pendidikan SD atau SLTP (dalam Udin S. Winataputra 2007:1.36).
Dijelaskan lebih lanjut oleh Udin S.
Winataputra tentang penilaian hasil belajar yang didasarkan atas ukuran yang
ditetapkan secara nasional dilakukan sewaktu-waktu bila diperlukan untuk memperoleh
keterangan tentang mutu hasil pendidikan dasar (SD dan SLTP).
Berdasar uraian di atas penilaian
hasi belajar merupakan tahapan di mana diupayakan oleh pendidik untuk
mengetahui seberapa jauh kemampuan dan keterampilan yang telah diperoleh siswa dalm
kurun waktu tertentu, dan hal tersebut dapt dilaksanakan sewaktu-waktu bila
dibutuhkan.
f. Karakteristik Anak Didik Sekolah Dasar
Menurut Nasution (dalam Syaiful Bahri
Djamarah 2008:123) masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang
berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kiara sebelas atau dua belas
tahun. Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2008:123) "masa usia sekolah adalah
masa matang untuk belajar maupun masa matang untuk sekolah".
Masa usia sekolah dianggap oleh
Suryabroto (dalam Syaiful Bahri Djamarah, 2008:124) sebagai masa intelektual
atau masa keserasian sekolah menurut Suryabroto dapt diperinci menjadi dua fase
yaitu (1) masa kelas-kelas rendah sekolah dasar, kira-kira umur 6 atau 7 sampai
umur 9 atau 10 tahun, dan (2) masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar, kira-kira
umur 12 atau 13 tahun.
a) Masa Kelas-Kelas Rendah Sekolah Dasar
Beberapa sifat khas anak-anak pada masa
usia ini antar lain adalah:(1) adanya korelasi positif yang tinggi antara
keadaan kesehatan pertumbuhan jasmani dan prestasi sekolah, (2) adanya sikap
yang cenderung untuk mematuhi peraturan-peraturan permainan tradisional, (3)
adanya kecenderungan menguji sendiri, (4) suka membanding-bandingkan dirinya
dengan anak lain kalau hal itu dirasanya menguntungkan untuk meremehkan anak
lain, (5) kalau tidak dapat menyelesaikan
sesuatu soal, maka soal itu dirasanya tidak penting, (6) pada masa ini
(terutama 6-8 tahun) anak menghendaki nilai (angka raport) yang baik, tanpa
memngingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.
b) Masa Kelas-Kelas Tinggi Sekolah Dasar
Beberapa sifat khas anak-anak pada masa usia ini antar
lain adalah:(1) adanya minat dalam kehidupan praktis sehari-hari yang kongkret,
hl ini menimbulkan adanya kecenderungan adanya untuk membandingkan
pekerjaan-pekerjaan praktis, (2) amat realistik, ingin tahu, dan ingin belajar,
(3) menjelang akhir masa ini teklah ada minat terhadap hal-hal dan mata
pelajaran khusus, yang oleh para ahli ditafsirkan sebagai mulai menonjolnya
faktor-faktor, (4) sampai kira-kira umur 11 tahun anak membutuhkan guru atau
oranr-orang dewasa lainnya, (5) anak pada masa ini gemar membentuk kelompok
sebaya, biasanya untuk dapat bermain bersama-sama. Didalam permainan ini
biasanya anak tidak lagi terikat pada aturan permainan yang tradisional, mereka
membuat peraturan sendiri.

0 comments:
Post a Comment